Jumat, 30 Agustus 2013
Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia memutuskan untuk memperkuat kerja
sama antara bank sentral dalam kebijakan moneter dan stabilitas sistem
keuangan. Bank Indonesia masih memiliki instrumen untuk menjaga
stabilitas nilai tukar.
"Bank Indonesia menilai bahwa jumlah cadangan devisa yang ada masih
cukup untuk menghadapi tekanan pada neraca pembayaran," tutur Direktur
Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Difi Ahmad Johansyah di
Gedung Bank Indonesia, Kamis (29/8).
Proyeksi masih tingginya tekanan dan ketidakpastian perekonomian
global ke depan, perlu disikapi dengan langkah antisipasi. Baik melalui
bauran kebijakan maupun bantalan kecukupan cadangan devisa secara
berlapis (second line of defense).
"Dalam kaitan ini, Bank Indonesia telah menandatangani perpanjangan
Bilateral Swap Arrangement (BSA) dengan Bank of Japan sebagai agen
Menteri Keuangan Jepang sebesar USD 12 miliar, berlaku efektif 31
Agustus 2013. Pembahasan untuk kerjasama serupa juga sedang dilakukan
dengan bank-bank sentral di kawasan," jelas Difi.
Dengan demikian, BI memiliki bantalan cadangan devisa yang dapat
digunakan sewaktu-waktu apabila dibutuhkan, melalui BSA dengan Bank of
Japan. Dana tersebut merupakan cadangan devisa Bank of Japan yang dapat
digunakan BI apabila sewaktu-waktu dibutuhkan.
"Kita bisa ambil, syaratnya adalah menunjukkan kesulitan BOP (balance
of payment) dan kesulitan likuiditas. Tapi Indonesia belum menggunakan
itu. Cadangan Devisa kita masih cukup," tutup Difi.
[noe]
Sumber : http://www.merdeka.com
