Panduan dan Teknik SEO
PPC Iklan Blogger Indonesia
Home » , , » Kenaikan BI Rate belum akan ampuh selamatkan ekonomi Indonesia

Kenaikan BI Rate belum akan ampuh selamatkan ekonomi Indonesia

Gedung Bank Indonesia. Merdeka.com / Dwi Narwoko
Bank Indonesia baru saja menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 50 basis poin, menjadi 7 persen. Walau berguna dalam jangka pendek buat menguatkan nilai tukar rupiah, pengamat ekonomi dari lembaga EKONID, Hendri Saparini, menganggapnya itu hanya solusi tambal sulam.
Menurutnya, gejolak di bursa saham dan valas dua pekan terakhir, lebih disebabkan karena fundamental industri Indonesia yang rapuh. Selepas krisis 1998, ekspor manufaktur yang sempat mencapai 70 persen dari total ekspor nasional anjlok luar biasa, digantikan barang mentah dari kekayaan alam.
Menurut Hendri, kosongnya perhatian pelaku usaha lokal pada pertanian, manufaktur, dan industri bernilai tambah selama 15 tahun reformasi, berbuah ketergantungan impor yang memuncak tahun ini.
"Besarnya impor ini yang menyebabkan masalah defisit perdagangan. Bukan dari sisi moneter, ini masalah struktur, pemerintah sampai sekarang berpikir moneter seolah solusi utama inflasi dan nilai tukar, padahal kita lihat 50 komoditas penyebab inflasi itu beras, tempe, tahu, minyak goreng," ujarnya selepas diskusi Apindo di Jakarta, Kamis (29/8).
Pemerintah, menurut Hendri, salah perhitungan karena mengira persoalan 2013 sama dengan 2009. Padahal, kini bukan moneter yang sedang rontok, melainkan sektor perdagangan nasional, sebagai imbas kebijakan Amerika. Karenanya, kenaikan BI rate bagi Hendri hanya upaya sia-sia buat menyelamatkan nilai tukar dalam jangka pendek. Apalagi, dia mendengar, BI bersama pemerintah, siap menerima paket bantuan devisa dari Bank of Japan ataupun Bank Dunia.
"Kita tidak bisa lagi menyelesaikannya dengan menaikkan suku bunga acuan. Memang kalau dengan pinjaman asing akan menambal cadangan devisa, tapi berapa lama. Jangan kita sia-siakan moneter mengguyur pasar," paparnya.
Solusi dari ekonom alumnus Universitas Gadjah Mada ini, biarkan nilai tukar rupiah mencapai ekuilibrium baru, semisal Rp 11.000 per USD. Berikutnya pemerintah serius menggenjot ekspor produk bernilai tambah. Paket kebijakan yang diumumkan pekan lalu, menurut Hendri belum terlalu fokus untuk sektor riil.
"Pilih sektornya, beri insentif komprehensif, bantu agar bisa masuk pasar luar negeri. Jangan seperti sekarang, cuma disebut padat karya, harus jelas yang mana, tekstil misalnya," kata Hendri.
[idr]
Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Maskolis | Johny Portal | Johny Magazine | Johny News | Johny Demosite
Copyright © 2011. Seputar Ekonomi Dan Bisnis - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website Inspired Wordpress Hack
Proudly powered by Blogger