Panduan dan Teknik SEO
PPC Iklan Blogger Indonesia
Tampilkan postingan dengan label Ekonomi Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ekonomi Indonesia. Tampilkan semua postingan

Prediksi Ekonomi Indonesia Tahun 2013

Selasa, 03 September 2013

Prediksi Ekonomi Indonesia Tahun 2013 – Prediksi mengenai peningkatan ekonomi Indonesia 2013 ternyata tidak seperti yang kita harapkan. Beberapa pakar bahkan menyatakan bahwa di tahun 2013 kondisi ekonomi Indonesia akan semakin memburuk. Pemerintah sendiri berharap investasi infrastruktur dan peningkatan nilai tambah komoditas ekspor dapat memacu pertumbuhan ekonomi pada 2013 yang ditargetkan sebesar 6,8%. Namun apa yang diamati oleh para pakar tidaklah demikian.

Beberapa Prediksi Ekonomi Indonesia Tahun 2013

Seorang pakar ekonomi dari Universitas Andalas, Professor Elfrindi mengatakan bahwa ekonomi Indonesia di tahun 2013 akan lebih buruk di banding tahun 2012.
Di lain pihak, Royal Bank of Scotland (RBS) juga memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di 2013 hanya mencapai 6,5%. Angka ini lebih rendah dibandingkan perkiraan pemerintah yang optimistis pertumbuhannya bisa mencapai 6,8%. Hal ini semakin memperkuat prediksi bahwa Ekonomi Indonesia 2013 akan lebih buruk dari 2012.
Komite Ekonomi Nasional (KEN)juga turut memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2013 lebih rendah dibandingkan prediksi pertumbuhan 2012. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2013 diramal sebesar 6,1-6,6 persen.

Berikut video yang tentang prediksi Ekonomi Indonesia tahun 2013 menurut KEN

Continue Reading | komentar

Hadapi potensi krisis, BI perkuat kerja sama dengan Bank Jepang

Jumat, 30 Agustus 2013

Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia memutuskan untuk memperkuat kerja sama antara bank sentral dalam kebijakan moneter dan stabilitas sistem keuangan. Bank Indonesia masih memiliki instrumen untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
"Bank Indonesia menilai bahwa jumlah cadangan devisa yang ada masih cukup untuk menghadapi tekanan pada neraca pembayaran," tutur Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Difi Ahmad Johansyah di Gedung Bank Indonesia, Kamis (29/8).
Proyeksi masih tingginya tekanan dan ketidakpastian perekonomian global ke depan, perlu disikapi dengan langkah antisipasi. Baik melalui bauran kebijakan maupun bantalan kecukupan cadangan devisa secara berlapis (second line of defense).
"Dalam kaitan ini, Bank Indonesia telah menandatangani perpanjangan Bilateral Swap Arrangement (BSA) dengan Bank of Japan sebagai agen Menteri Keuangan Jepang sebesar USD 12 miliar, berlaku efektif 31 Agustus 2013. Pembahasan untuk kerjasama serupa juga sedang dilakukan dengan bank-bank sentral di kawasan," jelas Difi.
Dengan demikian, BI memiliki bantalan cadangan devisa yang dapat digunakan sewaktu-waktu apabila dibutuhkan, melalui BSA dengan Bank of Japan. Dana tersebut merupakan cadangan devisa Bank of Japan yang dapat digunakan BI apabila sewaktu-waktu dibutuhkan.
"Kita bisa ambil, syaratnya adalah menunjukkan kesulitan BOP (balance of payment) dan kesulitan likuiditas. Tapi Indonesia belum menggunakan itu. Cadangan Devisa kita masih cukup," tutup Difi.
[noe]
 
Continue Reading | komentar

Kenaikan BI Rate belum akan ampuh selamatkan ekonomi Indonesia

Gedung Bank Indonesia. Merdeka.com / Dwi Narwoko
Bank Indonesia baru saja menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 50 basis poin, menjadi 7 persen. Walau berguna dalam jangka pendek buat menguatkan nilai tukar rupiah, pengamat ekonomi dari lembaga EKONID, Hendri Saparini, menganggapnya itu hanya solusi tambal sulam.
Menurutnya, gejolak di bursa saham dan valas dua pekan terakhir, lebih disebabkan karena fundamental industri Indonesia yang rapuh. Selepas krisis 1998, ekspor manufaktur yang sempat mencapai 70 persen dari total ekspor nasional anjlok luar biasa, digantikan barang mentah dari kekayaan alam.
Menurut Hendri, kosongnya perhatian pelaku usaha lokal pada pertanian, manufaktur, dan industri bernilai tambah selama 15 tahun reformasi, berbuah ketergantungan impor yang memuncak tahun ini.
"Besarnya impor ini yang menyebabkan masalah defisit perdagangan. Bukan dari sisi moneter, ini masalah struktur, pemerintah sampai sekarang berpikir moneter seolah solusi utama inflasi dan nilai tukar, padahal kita lihat 50 komoditas penyebab inflasi itu beras, tempe, tahu, minyak goreng," ujarnya selepas diskusi Apindo di Jakarta, Kamis (29/8).
Pemerintah, menurut Hendri, salah perhitungan karena mengira persoalan 2013 sama dengan 2009. Padahal, kini bukan moneter yang sedang rontok, melainkan sektor perdagangan nasional, sebagai imbas kebijakan Amerika. Karenanya, kenaikan BI rate bagi Hendri hanya upaya sia-sia buat menyelamatkan nilai tukar dalam jangka pendek. Apalagi, dia mendengar, BI bersama pemerintah, siap menerima paket bantuan devisa dari Bank of Japan ataupun Bank Dunia.
"Kita tidak bisa lagi menyelesaikannya dengan menaikkan suku bunga acuan. Memang kalau dengan pinjaman asing akan menambal cadangan devisa, tapi berapa lama. Jangan kita sia-siakan moneter mengguyur pasar," paparnya.
Solusi dari ekonom alumnus Universitas Gadjah Mada ini, biarkan nilai tukar rupiah mencapai ekuilibrium baru, semisal Rp 11.000 per USD. Berikutnya pemerintah serius menggenjot ekspor produk bernilai tambah. Paket kebijakan yang diumumkan pekan lalu, menurut Hendri belum terlalu fokus untuk sektor riil.
"Pilih sektornya, beri insentif komprehensif, bantu agar bisa masuk pasar luar negeri. Jangan seperti sekarang, cuma disebut padat karya, harus jelas yang mana, tekstil misalnya," kata Hendri.
[idr]
Continue Reading | komentar

Dikritik kebijakan tak tepat sasaran, SBY membela diri

sby hadiri acara hipmi. rumgapres/abror rizki
Paket kebijakan pemerintah yang diluncurkan akhir pekan lalu, dinilai terlambat bahkan ada yang mengkritik tidak tepat sasaran. Terlebih, pasca diluncurkannya paket kebijakan penyelamatan ekonomi, kondisi di lantai bursa dan pasar keuangan belum membaik.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pun membela diri. SBY mengklaim bahwa pemerintah telah bertindak cepat dalam mengantisipasi krisis perekonomian di Tanah Air pasca jatuhnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar Rupiah. Paket kebijakan yang ditetapkan pemerintah itu antara lain di bidang fiskal, moneter, pasar modal hingga industri.
SBY menuturkan, paket kebijakan ekonomi tersebut tidak serta merta bisa langsung dirasakan dengan cepat. Butuh langkah-langkah yang tepat hingga evaluasi dari masing-masing kementerian di bidang perekonomian agar mendapat hasil yang positif.
"Tentu sebuah kebijakan atau yang sering kita sebut, policy respon dan langkah tindakan yang kita lakukan tidak serta merta rasanya dirasakan minggu ini, atau minggu depan. Lazimnya ada satu kurun waktu, untuk mendapatkan impact tentu yang kita harapkan positif impact, dampak positif dari semua ini," tegas SBY.
SBY pun berseloroh. Menurutnya, dampak positif dari kebijakan tidak seperti kacang kedelai dan dicampur dengan air sehingga bisa langsung dirasakan hasilnya. Kepala negara memerintahkan seluruh menteri untuk tetap bekerja keras agar kebijakan penyelamatan ekonomi berjalan sebagaimana mestinya.
"Para menteri teknis tidak berhenti untuk mengelola dan melakukan sesuatu, pasar ini memerlukan pengetahuan, atau pasar mesti mengerti bahwa kita bekerja dengan sungguh-sungguh, mengikuti apa yang kita lakukan untuk memastikan apa yang kita lakukan bahwa paket kebijakan itu dijalankan," katanya.
[noe]

Continue Reading | komentar
 
Support : Creating Website | Johny Template | Maskolis | Johny Portal | Johny Magazine | Johny News | Johny Demosite
Copyright © 2011. Seputar Ekonomi Dan Bisnis - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website Inspired Wordpress Hack
Proudly powered by Blogger