Senin, 20 Januari 2014
RIMANEWS-''Saya beri tahu satu rahasia: Kita masih bisa bangun minimal
10 tambang sebesar Freeport lagi di Papua. Kita begitu kaya,'' kata
capres Prabowo Subianto dalam twiternya, semalam. Percakapan Prabowo
dan Hazmi Srondol di Kompasiana soal kepedihan Prabowo atas operasi
Freeport yang merugikan NKRI memikat untuk disimak. Petikan selanjutnya
berikut ini:
Sebagaimana studi ekonom senior Rizal Ramli sudah menyingkapkan 1998
mengenai keuntungan berlipatganda Freeport dari tambang di Papua dan
ketidakadilan di dalamnya yang melampaui batas, sampai sejauh ini
ternyata Pemerintah SBY “membiarkan” Freeport Indonesia terus melakukan
operasi pertambangannya di Papua secara tamak, dan tidak adil dalam bagi
hasil. Padahal konon, setoran Freeport ke pemerintah Republik Indonesia
hanya 1%.
“Freeport telah bersama Indonesia selama 30 tahun. Namun hanya satu
persen dana yang dikucurkan olehnya untuk NKRI dan itu hanya untuk dana
CSR saja belum untuk yang lain.Sumbangan langsung kepada rakyat
setempat, bayar royalty pajak, mereka berinvestasi besar untuk
Indonesia, belum memadai atau bahkan tak ada, ” jelas Prabowo. “Kita
seharusnya berpikir rasional untuk kepentingan nasional Indonesia bahwa
kita meneruskan Freeport untuk kepentingan suku-suku disekitar
lingkunganya!, ” kata Prabowo.
Perjalanan panjang Freeport untuk menjadi operator tambang di Papua
mengundang banyak pertanyaan dan rasa ingin tahu bagaimana Freeport ini,
dalam istilah Prabowo disebut “operator tambang”. Kisahnya dimulai dari
awal tahun 1936 ketika dua petualang Colijn dan Jean Jacquest Dozy
melakukan ekspedisi untuk membuktikan adanya kawasan gletser (salju
abadi) di puncak gunung Jayawijaya yang pertama kali dicatat oleh Capt. Johan Carsten
tahun 1623. Padahal seharusnya hal itu mustahil karena berada pada
daerah tropis. Disana tanpa sengaja mereka malah menemukan lokasi
tambang tembaga yang terhampar di permukaan tanah (wow!) dikawasan
Erstberg.
Hal yang akhirnya menarik perusahaan tambang Freeport Sulphur, walau
pun sempat Dozy dianggap gila atas laporannya. Namun, setelah Forbes
Wilson melakukan penelitian, ia pun yang malah terbalik menjadi gila
karena bukan hanya tembaga, terdapat kandungan bijih perak dan emas
dalam gunung tersebut yang menurutnya—harus diganti nama menjadi Gold
Mountain.
Usaha penambangan ini pun seret karena hubungan Indonesia semakin
memanas tehadap Belanda. Makin susah ketika Soemitro
Djoyohadikusumo—ayahda Prabowo berhasil mendesak JF Kennedy untuk
membatalkan bantuan Marshall Plan kepada Belanda. Belanda panik dan bertekut lutut menyerahkan Papua Barat kepada Indonesia.
Usaha penambangan di Erstberg pun baru bisa dilaksanakan sekitar tahun
1967 sd 1988 di era Orde Baru. Daerah yang sebelumnya hutan belantara
itu pun disulap menjadi kota, lengkap dengan beragam fasilitas serta
bandar udara yang kini menjadi kota Timika.
Sedangkan lokasi tambang Grasberg yang lebih besar, yang diameter
lubangnya saja lebih dari empat kalilipat dari Ertsbers baru dibuka
tahun1988. Sekitar 25 tahun yang lalu.
Nah terkait penambangan tersebut serta statement setoran 1% Freeport ke
Indonesia yang muncul pertama kali oleh statement Amien Rais di era
Orde baru dan masih menjadi pandangannya hingga saat ini,khususnya pada
akhir tahun 2013 tepatnya 28 Desember 2013 pun membuatku kembali
mengorek datanya.
Dari laporan tahun 2004 saja—muncul kekagetan yang luar biasa. Ternyata Freeport memberikan setoran benefit ke pemerintah Indonesia berupa dari pajak, royalty, dividen, biaya, dan dukungan langsung lainnya sejumlah $ 260 juta.
Padahal, dengan angka tersebut, berarti setoran Freeport tersebut
dibandingkan produksi emas yang dikeruknya sekitar 37%. Jauh lebih besar
dari asumsi 1% yang sering kita baca atau dengar. Nah, lebih
mengejutkan lagi jika dilihat dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. Waktu
aku coba utak-atik data produksi emas yang ditambang freeport, lalu di
kalikan dengan harga emas dunia rata-ra per ounce, dan kemudian
harga emas tersebut di persentasekan terhadapsetoran benefit ke
pemerintah Indonesia adalah sekitar 105%. Artinya, emas yang dikeruk
semua di kembalikan ke pemerintah.
Bahkan lebih mengagetkan, tahun 2006 dan 2007—pajak yang diminta
pemerintah Indonesia lebih besar dari jumlah emas yang berhasil di
tambang oleh Freeport.Bisa kita artikan, biaya operasional dan
keuntungan Freeport kali ini semua berdasar dari keuntungan tambang
tembaganya saja. Freeport kini pun sudah menjadi “kuli tambang” emas
untuk rakyat Indonesia. Bangsa kita jadi bangsa kuli, Freeport mengeruk
tambang makin menjadi-jadi. dari data inilah yang akhirnya aku paham
kenapa Prabowo begitu marah dan geram, bahkan ngamuk-ngamuk
terhadap pencurian dan kebocoran anggaran negara yang mencapai Rp. 1.100
trilyun pada tahun 2013. Kebocoran yang menjadi momok baru negara
Indonesia. Padahal dulu sempat aku kebingungan, darimana datangnya uang
sebesar itu jika selisih ekspor dan impor Indonesia hanya sekitar $ 30
juta saja? Ternyata salah satunya dari kasus Freeport ini. (Hazmi Srondol, penulis/RM/KCM)
Sumber : http://www.rimanews.com/read/20140120/137619/suara-prabowo-soal-freeport-di-papua?utm_source=dlvr.it&utm_medium=twitter
